Karena sepertinya gw jarang melihat artikel yang mengupas tuntas mengenai perpasaran di Indonesia, maka kali ini saya sebagai pengamat pakar pasar di Indonesia akan mengupasnya.
There are always some "preman"(gangster?) in every traditional market in Jakarta.
Inilah quote yang gw ciptakan untuk menggambarkan perpasaran di Jakarta. Dengan menggunakan bahasa inggris dan ditulis menggunakan huruf italic, gw yakin quote gw akan kelihatan bijak meskipun isinya hanya biasa-biasa saja. Ini adalah sebuah teknik psikologi kawan-kawan. Teknik psikologi yang baru-baru ini gw temukan dan sudah saya patenkan dan namakan dengan nama wiseillusion. <-- lihat, bahkan nama asal-asalan inipun jadi terlihat bijak bukan?
Gw rasa, bagi kalian yang pernah berkunjung ke pasar pun pasti pernah mengalami yang namanya pemalakan khususnya bagi yang menggunakan kendaraan beroda empat. Yap benar sekali itulah yang saya rasakan sewaktu berkunjung dengan menggunakan kendaraan roda empat. Lebih tepatnya ketika gw mau keluar dari parkiran. Berikut ini adalah pembicaraan standart antara pengemudi dengan tukang parkir pasar :
Intro : Pengemudi sedang ingin mengeluarkan mobilnya yang baru saja parkir selama 1 menit
P : pengemudi
T : tukang parkir
T : Kanan, kanan, kanan, terus, terus (mengatur mobil pengemudi seperti layaknya komandan briptu laksamana jendral kaisar cina)
P : *berusaha mengeluarkan mobil sambil memperhitungkan jarak antara sebelah mobil dengan menggunakan rumus-rumus fisika* (memang terlalu pintar pengemudi ini, keturunan isacc newton sepertinya)
Tak lama kemudian pengemudipun berhasil mengeluarkan mobilnya
P : *mengeluarkan tangan sambil memberikan recehan 2000 rupiah*
T : Wah kurang bos!
P : HAH? Emang berapa pak?
T : Kurang goceng
P : Saya baru parkir cuma 1 menit tadi pak! (dengan muka masam menjawab sambil berpikir parkir pasar kok lebih mahal daripada parkir mall ya?)
T : Apaan!? Tadi saya lihat mobil bos uda 3 jem yang lalu
P : Enak aja, bapak jangan mengada-ngada ya! Saya BARU aja parkir disini! (ekspresi wajah sudah menunjukkan tekanan jantung mencapai 210/170)
Begitulah kira-kira skenario standart ala pemalakan tukang parkir pasar. Ada lagi pemalakan lainnya, misalnya ketika ada barang yang turun di pasar, ketika mobil barang memasuki pasar, ketika ada kuli pasar yang membantu mengangkat barang anda.
Btw, saya punya tips yang menarik untuk anda ketika anda dipalak oleh tukang parkir! Penasaran kan? Ini dia tips gratis ala jagoan neon dari planet krypton. Ketika elu dipalak oleh si abang, lihat wajah si abang! Biasanya sambil memalak dia tidak akan berani menatap anda! BAM! Ini dia, jika dia melakukan hal seperti ini, saya berani jamin dalam lubuk hatinya ia merasa bersalah atau tidak berani terhadap anda. So, yang perlu anda lakukan adalah anda tidak boleh TAKUT!
Hal-hal seperti ini sudah biasa sobat, bagi dunia perpasaran Indonesia. Tipu menipu, peras memeras, dkknya. Mungkin kalo Malaikat menggunakan "teropong kebaikan" dari surga melihat ke bawah, dia tidak dapat melihat ke bagian pasar di Jakarta. Ketika sang malaikat mengarahkan teropongnya ke arah pasar, niscaya penglihatannya akan terhalang oleh segumpal awan tebal berwarna hitam di atas pasar tersebut. Sepertinya, memang, perpasaran di Indonesia membutuhkan seorang nabi untuk menyadarkan para orang-orang tersebut.
So, dipasar gw lumayan mendapatkan banyak pengalaman. Khususnya pengalaman dalam menghadapi orang-orang yang menyulitkan. Apalagi ketika toko lagi rame. DAMN!! Elu bakal berasa kayak ARTIS sobat! gue ulangi sekali lagi, kayak ARTIS! Beghhhhh... bagi teman-teman yang punya obsesi menjadi artis atau dipuja banyak fans, saya sarankan bekerja di pasar. Ketika toko lagi rame-ramenya, nama elu bakal dipanggil terus! Semua orang memanggil elu! Semua orang mengharapkan elu! Semua orang menjulurkan tangannya kepada elu!
So, gue serasa menjadi artis ketika toko sedang rame-ramenya! Semua orang memanggil, mengharapkan, dan menjulurkan tangannya kepada gue! Dalam benak gue langsung terbayang, semua orang disini menjulurkan tangannya bagaikan seorang reporter yang menjulurkan mic untuk meminta komentar gw jadian sama Paris Hilton dan gw mengacuhkan permintaan mereka sambil berkata dengan tenang "sabar ya bapak ibu, semua dapet giliran". KEREN BANGET!! JAHANAM ABIS KERENNYA!! Namun ketika gw tersadar dari mimpi gw dan kembali ke dunia realita, yang mereka pegang itu bukan mic melainkan bon pesanan barang mereka sambil berkata "ko, ambilin barang saya dulu dong".
Bayangkan sobat, bayangkan. Bagaimana jika ada sekitar 10-20 orang yang berkata "ko, ambilin barang saya dulu", "ko, buatin bon", "ko, saya cuma dikit ko", "ko, saya mau buru-buru anter anak sekolah ko", "ko saya udah kebelet pipis ko", "ko, koko ganteng banget sih" dan lebih parahnya lagi mereka mengatakan hal ini sambil sahut menyahut! Dijamin! Anda pasti pusing! Pekerjaan toko tidak lebih mudah daripada pekerjaan kantoran sobat. Banyak orang meremehkan pekerjaan toko, namun sebenarnya pekerjaan ini menurut gw tidak kalah susahnya. Bahkan ada beberapa pelanggan yang ngobrol berbisik menjelekkan karyawan ataupun pelayanan toko namun entah mengapa bisikan mereka dibuat-buat sehingga kita mendengarnya.
So, gw di pasar mendapatkan beberapa pengalaman menghandle orang-orang ribet, orang-orang malak, dll. Yah meskipun ilmu gw belom sakti dan jago. Namun gw anggap ini sebagai pelajaran buat gw. Ini ilmu keren banget harus dipelajari. Ketika lu menjadi sebuah pemimpin dalam perusahaan ataupun apapun, gw yakin lu akan banyak menemukan orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, pelajaran seperti ini gw anggap adalah pelajaran yang tak ternilai harganya. Di sekolah dan di univ loe cuma belajar menghadapi guru-guru yang rese dan dosen-dosen yang pelit nilai. Di kantor loe cuma berhadapan dengan 1-3 orang yang menyebalkan. Tapi di pasar, loe berhadapan dengan LIMA bahkan LEBIH orang yang seperti ini. Yah meskipun ada juga pelanggan yang baik dan berbudiman. Namun 70% dari mereka tidak, khususnya ibu-ibu.
Kalo elu pernah menghadapi ibu-ibu, elu pasti tau betapa sulitnya membela diri dihadapan dia. Mannnnn, gw pernah menghadapi seorang ibu-ibu yang namanya saya tidak sebutkan disini. Peristiwa tersebut terjadi ketika si ibu-ibu belanja di toko gw, kemudian sang ibu-ibu pun membayar barang belanjaannya. Tentu saja sebagai seorang pekerja yang baik saya menghitung uang pembayaran si ibu. Setelah gw hitung, ternyata uangnya kurang. Gw hitung sekali lagi sambil berpikir "Ah apa gue salah itung ya". Setelah menghitung dengan lebih teliti, ternyata uangnya tetap kurang. Gw coba hitung sekali sambil berpikir "siapa tau uangnya seperti uang peralatan sulap, bisa bertambah ketika dihitung 3x berturut-turut". Akhirnya gw hitung lagi dengan jari jemari gw yang lentik dan cekatan. Ternyata hasilnya, SAMA LAGI. Akhirnya gw pun berkata kepada sang ibunda "Ibu ini uangnya kurang 50 rb". Tapi apa yang terjadi? Si ibu langsung ngoceh dengan nada tak enak : "Enak aja! Gak mungkin kurang!". Karena sebelum belanjapun si ibu-ibu ini sudah bawel ngoce-ngoce kesana kemari, gw pun agak emosi namun tetap cool menanggapi perkataan sang ibu : "Saya sudah hitung ulang bu dan masih kurang". Namun ibu-ibu tersebut tetap membela diri dengan menggunakan jurus ilmu silat perguruan bu tong pai.
Masih banyak kisah lain lagi mengenai ibu-ibu. Tapi inti dari kisahnya selalu berputar di masalah yang sama. Mereka tidak mau DISALAHKAN BANGET! Gw merasa wajar jika manusia tidak ingin disalahkan. Namun, perbedaannya disini adalah ketika kita menjelaskan dengan pelan-pelan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi, mereka tetap INSIST menyalahkan kita.
Tips terakhir dari gue untuk menghadapi orang-orang seperti ini : Ini tips yang bisa bikin gue lebih lega, meskipun tidak selalu. Yaitu : Anggap aja orang-orang seperti ini membantu elu mengembangkan karakter elu. Anggap mereka melatih kesabaran dan skill elu menghadapi orang-orang seperti ini. Ketika lu mempunyai pemikiran seperti ini, elu akan lebih lega dalam menghadapi orang-orang seperti ini. Gue uda mencoba tips ini dan lumayan berhasil, ya meskipun kadang-kadang gw jg masi bolong.
