Cihuy 2 postingan dalam waktu berdekatan, sungguh sebuah mukjizat! Yap kali ini gue akan bahas tentang the Insurance Agent atau agen asuransi dalam bahasa gaulnya. Perlu dicatat, gue tidak menyindir para agen asuransi dalam postingan ini. Gue hanya mengungkapkan apa yang gue pikirkan.
Postingan gue kali ini diangkat dari kotbah pendeta baru-baru ini yang mengatakan kalo kita harus berbuat baik karena kita cinta pada kebaikan itu sendiri, sedangkan kebanyakan orang berbuat baik demi dirinya sendiri. Hmm kotbah yang sangat bagus namun bukan itu poin kita disini, so let's skip it.
Tidak lama setelah kotbah itu, ada seorang temen gue yang berkata : "Wah harusnya kotbah itu dikasi buat agen asuransi tuh". Kira-kira begitu inti perkataannya meskipun gue sedikit lupa. Hmmm, entah kenapa gue jadi terpikir kata-kata tersebut dan gue jadi terpikir tentang kisah agen asuransi yang menurut beberapa orang menyebalkan.
Oke, gue pernah mengikuti sedikit pelatihan suatu perusahaan asuransi yang terkenal meskipun gue bukan agen perusahaan tersebut. Jadi kira-kira gue tau sedikit apa yang diajarkan disana.
Dari hasil mengikuti pelatihan sedikit. Yang gue simpulkan adalah :
1. Asuransi bukanlah sebuah produk yang buruk dan merugikan ataupun menguntungkan.
2. Hampir semua agen asuransi tidak tulus ingin membantu kita. Gue gak tau apakah ada agen asuransi yang memang tulus ingin membantu kita.
Oke, sekarang gue akan coba bahas satu persatu dari poin yang pertama
Asuransi bukanlah sebuah produk yang buruk dan merugikan ataupun menguntungkan
Menurut gue, menguntungkan atau tidak adalah sebuah penilaian subjektif. Faktanya adalah merugikan atau menguntungkan merupakan penilaian berbeda dari setiap orang dan kondisi setiap orang. Jika orang yang baru masuk 2 bulan lalu jatuh sakit dan diganti, tentu dia akan menganggap itu baik.
Hampir semua agen asuransi tidak tulus ingin membantu kita. Gue gak tau apakah ada agen asuransi yang memang tulus ingin membantu kita.
Nah ini dia yang menarik. Gue akan lebih menekankan ke bagian ini. Gue masih inget. Sewaktu gue ikut pelatihan asuransi, sang pelatih berkata : "Kita ini bermaksut baik loh menawarkan produk ini ke orang-orang, karena produk ini bagus dan bla bla bla alasan lainnya". Dia juga berkata : "Kalo bukan karena maksud baik atau dengan kata lain menggunakan maksud mencari uang, kita ga bakal bisa jadi sukses disini". Hmm sungguh bijak perkataan sang pelatih yang supel dan bawel itu namun juga lumayan cantik. Dan kerennya lagi dia baru seumuran gue atau lebih muda. Topppppp. Namun bukan itu yang pengen gue bahas disini.
Yang pengen gue bahas disini adalah mengajak kita kembali merenung apakah kita bener-bener mau membantu orang atau demi keuntungan sendiri. Nah caranya mudah kalo elo mau tau apakah elo nawarin asuransi untuk membantu orang atau demi keuntungan sendiri. Coba elo tanyakan kepada dirilo sendiri :
"Seandainya orang masuk asuransi tersebut tapi gue gak dapet komisi, gue bakal tetep gencer tawarin dan suruh orang atau orang tidak dikenal masuk asuransi ini apa gak?", "Apakah elo tetep akan meluangkan waktu mencari orang untuk masuk asuransi ini yang karena lo rasakan manfaatnya bagus?". "Apakah elo akan tetep ninggalin pekerjaan lo meskipun elo ga dapet komisi dari menjadi agen?" Gue rasa sebagian besar agen akan menjawab tidak which is itu bukan sebuah kebaikan yang tulus. So, tidak baik rasanya jika kita mengaku tulus ingin membantu orang saat menjadi agen asuransi.
Namun, menurut gue menjadi agen asuransi sendiri bukanlah pekerjaan yang buruk atau dosa. Gue akan memberi contoh dengan sales dan marketing karena agen asuransi memiliki pekerjaan yang mirip dengan kedua bagian ini. Sales dan marketing sama-sama menawarkan barang atau jasa demi keuntungan mereka sendiri, yaitu untuk mendapat komisi. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh agen asuransi yang menawarkan sebuah barang / produk. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa seorang sales dan marketing menawarkan jasa atau produknya ke teman sepermainannya atau komunitas dimana ia berada dan jika elo pikir ulang, hal ini juga berlaku untuk agen asuransi.
BAHKAN kenyataannya hampir dari kita semua bekerja dengan tidak tulus benar-benar ingin membantu bos. Mungkin anda seorang karyawan kantoran, programmer, desainer atau akuntan apapun itu. Namun pada akhirnya ada sesuatu yang kita inginkan dari pekerjaan kita yaitu mendapatkan gaji atau pengalaman atau apapun itu. Tidak banyak bedanya dari agen asuransi. Perbedaannya adalah agen asuransi menggunakan anda untuk mencari uang atau pengalaman dan lainnya sedangkan anda menggunakan bos untuk mencari uang atau pengalaman dan lainnya. Rasanya juga tidak adil jika kita menilai agen asuransi melihat orang sebagai sumber uang. Bagaimana dengan kita yang melihat bos sebagai sumber uang gaji kita (secara tidak langsung). Bagaimana dengan salesman saleswati marketing yang melihat client sebagai sumber uang?
Jadi menurut saya sementara ini (sebelum ada pendapat dan penjelasan lain yang membuktikan bahwa agen asuransi itu buruk), menjadi agen asuransi adalah bukanlah pekerjaan yang buruk. Yang buruk adalah jika seorang agen asuransi memaksa seseorang untuk percaya bahwa asuransi itu baik.
Memang itu hak kita untuk mempercayai apakah asuransi itu baik atau tidak namun salah jika kita memaksakan apa yang kita percayai kepada orang lain. Selain itu, yang salah menurut gue adalah jika seorang agen asuransi yang menggembar gemborkan bahwa mereka tulus untuk membantu jika pertanyaan yang gue lontakaran tadi dijawab dengan "Tidak" which is munafik. Happy working !
Postingan gue kali ini diangkat dari kotbah pendeta baru-baru ini yang mengatakan kalo kita harus berbuat baik karena kita cinta pada kebaikan itu sendiri, sedangkan kebanyakan orang berbuat baik demi dirinya sendiri. Hmm kotbah yang sangat bagus namun bukan itu poin kita disini, so let's skip it.
Tidak lama setelah kotbah itu, ada seorang temen gue yang berkata : "Wah harusnya kotbah itu dikasi buat agen asuransi tuh". Kira-kira begitu inti perkataannya meskipun gue sedikit lupa. Hmmm, entah kenapa gue jadi terpikir kata-kata tersebut dan gue jadi terpikir tentang kisah agen asuransi yang menurut beberapa orang menyebalkan.
Oke, gue pernah mengikuti sedikit pelatihan suatu perusahaan asuransi yang terkenal meskipun gue bukan agen perusahaan tersebut. Jadi kira-kira gue tau sedikit apa yang diajarkan disana.
Dari hasil mengikuti pelatihan sedikit. Yang gue simpulkan adalah :
1. Asuransi bukanlah sebuah produk yang buruk dan merugikan ataupun menguntungkan.
2. Hampir semua agen asuransi tidak tulus ingin membantu kita. Gue gak tau apakah ada agen asuransi yang memang tulus ingin membantu kita.
Oke, sekarang gue akan coba bahas satu persatu dari poin yang pertama
Asuransi bukanlah sebuah produk yang buruk dan merugikan ataupun menguntungkan
Menurut gue, menguntungkan atau tidak adalah sebuah penilaian subjektif. Faktanya adalah merugikan atau menguntungkan merupakan penilaian berbeda dari setiap orang dan kondisi setiap orang. Jika orang yang baru masuk 2 bulan lalu jatuh sakit dan diganti, tentu dia akan menganggap itu baik.
Hampir semua agen asuransi tidak tulus ingin membantu kita. Gue gak tau apakah ada agen asuransi yang memang tulus ingin membantu kita.
Nah ini dia yang menarik. Gue akan lebih menekankan ke bagian ini. Gue masih inget. Sewaktu gue ikut pelatihan asuransi, sang pelatih berkata : "Kita ini bermaksut baik loh menawarkan produk ini ke orang-orang, karena produk ini bagus dan bla bla bla alasan lainnya". Dia juga berkata : "Kalo bukan karena maksud baik atau dengan kata lain menggunakan maksud mencari uang, kita ga bakal bisa jadi sukses disini". Hmm sungguh bijak perkataan sang pelatih yang supel dan bawel itu namun juga lumayan cantik. Dan kerennya lagi dia baru seumuran gue atau lebih muda. Topppppp. Namun bukan itu yang pengen gue bahas disini.
Yang pengen gue bahas disini adalah mengajak kita kembali merenung apakah kita bener-bener mau membantu orang atau demi keuntungan sendiri. Nah caranya mudah kalo elo mau tau apakah elo nawarin asuransi untuk membantu orang atau demi keuntungan sendiri. Coba elo tanyakan kepada dirilo sendiri :
"Seandainya orang masuk asuransi tersebut tapi gue gak dapet komisi, gue bakal tetep gencer tawarin dan suruh orang atau orang tidak dikenal masuk asuransi ini apa gak?", "Apakah elo tetep akan meluangkan waktu mencari orang untuk masuk asuransi ini yang karena lo rasakan manfaatnya bagus?". "Apakah elo akan tetep ninggalin pekerjaan lo meskipun elo ga dapet komisi dari menjadi agen?" Gue rasa sebagian besar agen akan menjawab tidak which is itu bukan sebuah kebaikan yang tulus. So, tidak baik rasanya jika kita mengaku tulus ingin membantu orang saat menjadi agen asuransi.
Namun, menurut gue menjadi agen asuransi sendiri bukanlah pekerjaan yang buruk atau dosa. Gue akan memberi contoh dengan sales dan marketing karena agen asuransi memiliki pekerjaan yang mirip dengan kedua bagian ini. Sales dan marketing sama-sama menawarkan barang atau jasa demi keuntungan mereka sendiri, yaitu untuk mendapat komisi. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh agen asuransi yang menawarkan sebuah barang / produk. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa seorang sales dan marketing menawarkan jasa atau produknya ke teman sepermainannya atau komunitas dimana ia berada dan jika elo pikir ulang, hal ini juga berlaku untuk agen asuransi.
BAHKAN kenyataannya hampir dari kita semua bekerja dengan tidak tulus benar-benar ingin membantu bos. Mungkin anda seorang karyawan kantoran, programmer, desainer atau akuntan apapun itu. Namun pada akhirnya ada sesuatu yang kita inginkan dari pekerjaan kita yaitu mendapatkan gaji atau pengalaman atau apapun itu. Tidak banyak bedanya dari agen asuransi. Perbedaannya adalah agen asuransi menggunakan anda untuk mencari uang atau pengalaman dan lainnya sedangkan anda menggunakan bos untuk mencari uang atau pengalaman dan lainnya. Rasanya juga tidak adil jika kita menilai agen asuransi melihat orang sebagai sumber uang. Bagaimana dengan kita yang melihat bos sebagai sumber uang gaji kita (secara tidak langsung). Bagaimana dengan salesman saleswati marketing yang melihat client sebagai sumber uang?
Jadi menurut saya sementara ini (sebelum ada pendapat dan penjelasan lain yang membuktikan bahwa agen asuransi itu buruk), menjadi agen asuransi adalah bukanlah pekerjaan yang buruk. Yang buruk adalah jika seorang agen asuransi memaksa seseorang untuk percaya bahwa asuransi itu baik.
Memang itu hak kita untuk mempercayai apakah asuransi itu baik atau tidak namun salah jika kita memaksakan apa yang kita percayai kepada orang lain. Selain itu, yang salah menurut gue adalah jika seorang agen asuransi yang menggembar gemborkan bahwa mereka tulus untuk membantu jika pertanyaan yang gue lontakaran tadi dijawab dengan "Tidak" which is munafik. Happy working !


