Okay, sepertinya judul sudah melambangkan 80% isi dari tulisan gw kali ini. Gw yakin pasti banyak buanget para pembaca yang kaget setelah membaca judul postingan kali ini. Mungkin beberapa dari mereka ada yang shock total sampe kejang-kejang, mungkin juga ada yang patah hati setelah membaca tulisan ini, tapi mungkin juga ada yang sedikit terinspirasi setelah membaca tulisan ini.
Note : Sebelum membaca tulisan ini, pastikan anda tidak anti alkitab. Selain itu gw tidak mengklaim kalo tulisan pendapat gue ini kebenaran yang absolut seperti kekuasaan si firaun jaman dulu.
Bagi kalian yang merasa kurang memahami teologi-teologi ini itu, TENANG. Gue ulangi sekali lagi. TENANG anak muda! Soalnya, gue juga gak jago teologi-teologi ini itu. Gue juga ga mengklaim hidup gw super lurus ga pernah berbuat dosa (justru sering malah..loh?). Gue juga ga mengklaim gw seorang super hero seperti iron man dkk (ga nyambung sih). Gw sama seperti loe orang bro! Seorang manusia yang punya blog. Jadi penulisan ini isinya cuma atas dasar penasaran dan pemikiran gue aja.
Okeh kita mulai sekarang isinya. Cerita ini berawal dari ketika gue masuk kelas agama di kampus gw. Waktu itu ceritanya ada presentasi yang gue lupa entah mengenai apa, tapi yang jelas gw inget satu hal. Satu hal sobat, yaitu dimana setelah presentasi ada sesi tanya jawab. Tanya jawabpun dilakukan setelah kelompok gue presentasi dengan berkobar-kobar ala motivator ternama. Begini kira-kira pertanyaanya :
K = Kelompok gue
P = Penanya
G = Gw
(Karena P bertanya, jadi P mulai duluan <- ga penting)
P : K, kalo misalnya ada orang bae pulang dari gereja. Terus tiba-tiba ditengah jalan dia ketemu orang jahat. Eh tu orang bae tiba-tiba dibunuh oleh orang jahat (ga tau juga kenapa dibunuh mungkin orang jahatnya iseng lagi pengen bunuh orang yang mukanya bae). Itu rencana Tuhan bukan sih?
G : *mikir : gile kasian banget tu orang bae nasibnya, uda bae mati abis pulang beribadah pula. Uda itu, kayaknya belom nikah pula. Soalnya ke gereja sendirian*
(Gw mikir : kalo jawab iya, pasti jebakan nih. Pasti ada pertanyaan LANJUTAN! PASTI! Tapi kalo jawab bukan, gue juga ga tau alasannya)
(Tiba-tiba K menjawab)
K : iya itu rencana Tuhan
G : *shock berat* dalem hati ngomong : Mampossss, kita baru aja jatoh ke jebakan P sobat!
P : kalo gitu Tuhan jahat dong bikin rencana kayak gitu? Terus si pembunuhnya dosa gak tuh? Kan itu rencana Tuhan, kasian banget kalo dia dosa gara-gara rencana Tuhan (Bener aja jebakan)
(Akhirnya gue 1 kelompok bengong gak bisa jawab, cengo. Setelah beberapa lama bengong, dosen pun memotong pembicaraan dan beralih ke topik lain. Gue mulai mikir jangan-jangan si dosen juga gak tau jawabannya).
Berakhirlah hari itu dengan biasa-biasa saja. Namun entah mengapa tiba2 gue teringat peristiwa kejam ini lagi. Gue bernostalgia layaknya pejuang kemerdekaan yang mengingat masa lalunya membela negara. Tiba-tiba pun gw terpikir sebuah pertanyaan besar : Hmmm. Kalo gitu, pas Tuhan bunuh orang-orang dengan air bah gimana? Oke itu kan sebelum ada hukum taurat kalo ga salah (sotoy2nya gue aja), namun tiba-tiba gue juga teringat cerita orang yang berbohong mengenai perpuluhan itu. Ananias dan Safira kalo ga salah. Kedua orang yang nasibnya sungguh malang itu. Terus pikiran gue mulai sesat, hmm kalo gitu Tuhan melanggar hukum yang dia bikin sendiri dong? Dosa dong?
Oke gue pun merenung 100 tahun lamanya untuk mendapatkan jawaban ini. Awal-awal gue cuma iseng-iseng merenung, namun makin lama merenung entah kenapa gue makin penasaran. Dan setelah 1000 eh 100 tahun lamanya merenung, akhirnya gue mendapatkan beberapa kesimfulan.
Here comes the answer! Are you ready? Everyone shout "READYYYY!" with me! (Aneh sekali kalo lo orang ikutin perintah gue dan berteriak READYY di depan komputer sendiri)
Ini dia jawaban yang gue dapet :
Kemungkinan pertama, kita sebagai manusia sering menarik Tuhan sejajar dengan kita. Bahkan sering kali kita yang malah menyuruh Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita. Hukum taurat dibuat Tuhan untuk manusia. Jadi ada kemungkinan hukum tersebut tidak berlaku untuk Tuhan.
Kemungkinan kedua, Tuhan ber HAK membinasakan ciptaan-Nya. Gue tekankan ber HAK disini kenapa? Coba bayangin kalo elo punya duit 100rb. Teros iseng-iseng lo bakar deh 100rb punya lo sampe tinggal debu. Dosa gak loe? Ya engga lah! Duit elo, mau diapain ya hak elu. Tapi coba bayangin kalo elo bakar duit 100rb punya temen loe. Apa yang terjadi? Dosa? Jelas dosa!
Disini kasusnya sama seperti Tuhan membinasakan manusia yang merupakan milik-Nya / ciptaan-Nya. Kita kan punya nya Tuhan, nah kalo Tuhan menghapus(diperhalus dikit) kita. Dosa gak? Tidak, Dia berhak memperlakukan kita sesuai yang Dia mau tentunya. Seperti kita berhak memperlakukan uang 100rb kita sesuai yang kita mau. Nah gimana kalo kita bunuh orang? Dosa gak? Ya dosa lah. Itu kan sama aja kayak ngebakar duit 100rb punya orang laen.
Kemungkinan ketiga, penjelasan laen oleh orang yang lebih ahli di bidang alkitab daripada gue, yang punya dasar teologi-teologi yang muantappp.
Oke, jadi begitulah kira-kira pemikiran gue. Meskipun agak kejem juga kalo dipikir-pikir tapi itu kesimpulan yang bisa gue tarik sampe saat ini berdasarkan logika. Mungkin ada yang bisa menjelaskan gue dengan kemungkinan ketiga atau mungkin bahkan bukan kemungkinan lagi tapi jawaban yang absolut, gue terbuka untuk jawaban tersebut.
6 komentar:
Kalau Tuhan maha adil, maha baik, maha penyayang, dan yg lainnya. Mengapa kejahatan, perang (baik agama maupun sosial)selalu terjadi?
Bila dibilang itu karena ketiadaan Tuhan, bukannya katanya Tuhan maha bisa, mengapa tidak dicegah kejadian seperti itu? Mengapa Tuhan yang maha tahu sengaja menciptkan Adam supaya terjatuh ke dalam dosa? Apakah Tuhan yang maha adil melahirkan orang itu miskin dan kaya?
Hal-hal seperti ini selalu dijawab: itu karena rencana Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik, Tuhan punya rencana yang lebih indah, jawabannya pasti itu APAPUN kejadiannya. Semua rencana Tuhan?.....ataukah itu ilusi yang kita ciptakan untuk kedamaian batin semu? Just a thought.
wadoh banyak banget pertanyaannya. Orang-orang emang sensitif nih sama yang berbau SARA hahah!
Seperti yang gue bilang sebelumnya, gw gak mendalami teologi dkk jadi menurut gw, lo salah nanya ini ke gw
Tapi gpp gw coba kasi jawaban alakadarnya deh versi gw. Kalo ga puas (sepertinya bakal begitu), lo bisa langsung tanya ke pak pendeta terdekat untuk pengobatan pertama
Oke, menurut gue kejadian seperti perang, kejahatan, dll terjadi bukan karena Tuhan. Tapi ya karena manusianya aja yang dudul sendiri. Itu akibat dari ego manusia yang berlebihan. Sobat, coba pikir. Kalo Tuhan mau musnahin kita, ngapain dia suruh kita perang. Langsung aja dia bikin bumi tabrakan sama matahari gitu misalnya atau bumi kepeleset nabrak mars atau yang lainnya.
Selain itu, kalo menurut yang gue denger sih manusia punya kehendak bebas. Jadi ya mau perang atau mau ngapain pun Tuhan ga bakal melarang. Gitu sih yang gue denger. Nah kalo menurut loe Tuhan harus mencegah kejadian seperti perang, coba loe pikirin dalam ruang lingkup kecil dulu. Kenapa Tuhan ga mencegah elo waktu elo mau nyontek? Atau kenapa Tuhan ga mencegah elo waktu elo mau bohong? Atau bahkan waktu elo mau telat ngampus dll
Kalo buat orang miskin dan kaya menurut gue sih emang dunia ini GAK ADIL. Keadilan Tuhan itu ada saat dia menebus dosa manusia. Semua orang dapet kesempatan yang sama masuk surga, semua orang diselamatin. Kalo loe mau semua orang sama kayanya, menurut gue itu pemikiran yang sangat NAIF dan idealis bro! Dunia ini emang ga pernah adil, dimana-mana penuh dengan ketidakadilan.
Coba lo bayangin supaya adil katakanlah semua orang memiliki jumlah kekayaan yang sama. Gimana dengan mereka yang kerjanya seharian tapi sama kayanya dengan mereka yang santai tiap hari? Ya sama aja GAK ADIL! Masa yang santai seharian bisa sekaya yang kerjanya mati-matian ?? Justru yang kerja seharian lebih kaya daripada yang santai seharian itu baru adil!
Coba renungkan ini baik-baik bro. Darimana sih kata "adil" itu pertama kali ada? Darimana kata muktahir itu muncul, sobat. Pernah ga terpikir oleh elo? Tentu kata itu muncul karena adanya KETIDAK ADILAN yang terjadi pertama kali.
So, jangan BERHARAP dunia itu adil. Manusia emang gak pernah adil. Selalu ada unsur subjektif entah sekecil apapun itu dalam penilaian manusia bro
Semoga jawabannya memuaskan, kalo ga puas silahkan cari gereja setempat hahah
Wah...baru liat gw komentar gw ternyata dibales :p
NB: Hei...itu bukannya sensitif, gw cuma mau berbagi perenungan.
Sebelumnya, thanks uda menjawab. A great answer :-) Jadi intinya manusialah yg salah, bukan Tuhan.
Gw mesti menambahkan, maksud implisit dari pertanyaan itu bukan terletak di jawabannya dan juga bukan mengluhkan dunia tidak adil karena dunia itu balanced.
Tapi, dgn pertanyaan itu, gw pengen ketika u menjawab, u bisa merenungkan apakah konsep personal God yang maha segalanya adalah konsep yang benar?
Ataukah itu produk dari bapak pendeta dan guru agama yang mengajarkan kita dari kecil?
Let's stop and think for a moment tentang konsep ini. Semua jawaban untuk semua pertanyaan akan berujung pada Tuhan maha segalanya, dengan argumen lanjutan apapun yg buruk itu bukan dari Tuhan, atau itu adalah rencana tersembunyi Tuhan yang pasti baik.
Pertanyaan "Mengapa kejahatan ada?" yang gw tanyakan di awal itu adalah
pertanyaan 'kunci' yg ditanyakan kepada semua agama yang menganut kepercayaan personal God (Tuhan berpribadi / sama seperti manusia, hidup dan memiliki perasaan)
Ide Tuhan berpribadi akan memunculkan jawaban2 yang kontradiktif satu dengan
lainnya. Ayo kita lihat 3 premis ini, yang disetujui oleh semua agama penganut monotheisme dan Tuhan berpribadi:
Premis #1 : Tuhan maha bisa
Premis #2 : Tuhan maha baik
Premis #3 : Tuhan maha tahu
Mengacu ketiga premis di atas, muncul pertanyaan: Kenapa kejahatan ada? Tuhan melawan kejahatan , maha bisa, dan tahu kejahatan ada. Tapi mengapa Tuhan tetap membiarkan kejahatan ada? Logikanya, kejahatan seharusnya tidak ada.
Jawaban 1: Tuhan memberikan free-will kepada manusia (dengan kata lain memberikan manusia sumber kejahatan. Hal ini berarti melanggar premis 3.
Tuhan yang maha tahu seharusnya tahu bahwa manusia akan melakukan kejahatan dengan free-willnya.
Jawaban 2 (variasi dari jawaban 1): Tuhan maha baik, jadi Tuhan memberikan kehendak bebas agar manusia tidaklah seperti robot. Argumen ini juga ditolak
dengan alasan yg sama. Karena bila Tuhan maha baik, seharusnya Tuhan yang maha tahu akan munculnya kejahatan dalam hati manusia, tidak akan menciptakan
kehendak bebas itu. Entah Tuhan tidak maha tahu atau tidak maha baik.
Kesimpulannya, bila premis 3 jadi patokan, Tuhan tahu kita akan berbuat kejahatan dengan kehendak bebas kita, tapi Tuhan membiarkannya, berarti entah
Tuhan tidaklah maha baik, ataupun Tuhan tidaklah maha bisa.
Bila premis 1 jadi jangkar, Tuhan bisa mencegah kita melakukan kejahatan, tapi Tuhan tidak mau, berarti Tuhan tidaklah maha tahu karena Tuhan tidak tahu manusia akan berbuat kejahatan dengan free will itu, pun bila Tuhan tahu
kejahatan akan muncul tapi tidak mencegah kejahatan itu muncul, berarti Tuhan tidaklah maha baik.
Lebih lanjut terkait premis 2 (Tuhan maha baik).
Mengapa ada orang yang terlahir cacat? mengapa ada bencana alam yang menimpa orang baik? mengapa orang yang jahat sepanjang hidupnya bisa masuk surga?
Entah Tuhan maha adil, tapi tidak maha bisa mencegah hal itu terjadi, ataupun Tuhan maha bisa, tapi tidak maha adil?
Argumen terakhir untuk menjawab kontradiksi2 itu adalah adalah bahwa ini adalah rencana Tuhan untuk menunjukkan kemuliaan Tuhan. Bila begitu, kenapa Tuhan yang maha tahu harus mengetes dahulu ciptaannya? Apakah dengan memberikan free-will ataupun melahirkan seseorang cacat akan memberikan kesempatan pada Tuhan untuk menunjukkan kekuatannya dan kita akhirnya percaya. Seharusnya Tuhan yang maha bisa, maha tahu, maha baik tidaklah melakukan hal itu.
Bila Tuhan maha bisa, ini berarti Tuhan tidak maha baik karena membiarkan beberapa orang menderita untuk menunjukkan keagungannya. Dan juga tidak maha tahu karena Tuhan tidak tahu apakah orang akan mengagungkannya atau tidak
dengan memberikan free-will maupun cacat dari lahir kepada seseorang.
*******Please read*******
Bila kita sedari kecil dicuci otak oleh suatu institusi, maka bilapun mereka bilang 2+2=5, maka kita tidak akan bisa melihat dan tidak peduli bila kenyataannya 2+2=4.
Yang lebih menyedihkan, kenyataan bahwa sumber yang terpercaya itu ternyata merupakan pinjaman agama pagan pada zaman dulu. Tapi kita percaya buta karena unfortunately, dari kecil kita hanya diekspos dengan sumber itu.
Gw harap u tidaklah ignorant dan seharusnya mencari jawaban2 lain di luar sana. Ada alasan mengapa umat Islam, Yahudi, Buddha, Katolik, atau agama besar lainnya mengakui agama mereka yang benar. Sebaliknya, ada beberapa yang
menganggap agama lain kafir, ada juga yg bilang agama lain belum
diselamatkan.
Maka dari itu, agar adil kita harus melihat dari berbagai persfektif.
Cheers and good luck for your spiritual growth.
wah dibales donk tb2 wkwks
wah gue bingung jg sm penjelasan u wkwks. lebih enak kalo kita bahas face to face kali ya. gw rada ga nangkep nih jalan pikiran u kawan haha.
but gw ga blg pemikiran u salah dan pemikiran gw bener. pemikiran gue bisa salah dan gue juga bisa bener sama seperti elo. pemikiran elo bisa salah dan elo bisa juga bener.
Silakan dicari sendiri kebenaran sejati itu. Jangan puas cuma dengan ajaran yang diindoktrinasikan dari kecil.
Posting Komentar